Manajemen Keterikatan Pegawai
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Semua
perusahaan pasti memerlukan manajemen yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk
mencapai tujuan tertentu bagi perusahaan tersebut.Dalam usaha untuk mencapai
tujuan tersebut pastinya perusahaan memerlukan sebuah organisasi yang
benar-benar menjalankan usaha dengan baik. Berhasil atau tidaknya suatu
organisasi dalam mencapai tujuan tersebut tergantung oleh keberhasilan daripada
individu itu sendiri dalam menjalankan tugasnya di dalam perusahaan tersebut.
Dalam
suatu organisasi, sumber daya manusia bukan hanya sebagai alat produksi, namun
juga merupakan indikator penting dalam pencapaian tujuan organisasi. Sumber
daya manusia merupakan aset organisasi yang sangat vital, karena itu peran dan
fungsinya tidak bisa digantikan oleh sumber daya lainnya. Betapapun modern
teknologi yang digunakan, atau sebanyak apa dana yang disiapkan, namun tanpa
sumber daya yang profesional semuanya menjadi tidak bermakna (Tjutju, 2008 :
62-63).
Salah
satu faktor yang paling penting bagi suatu individu dalam bekerja adalah Work
Engagement(Keterikatan Kerja). Keterikatan kerja merupakan komponen psikologis
yang sifatnya bukan fisik atau dengan kata lain, belum tentu seorang karyawan
akan memiliki sebuah keterikatan kerja meskipun karyawan tersebut telah bekerja
lama di suatu perusahaan.
B.
Rumusan Masalah
1. Pengertian
Manajemen Keterikatan Pegawai
?
2. Dimensi
Keterikatan Pegawai ?
3. Tipe
Pegawai Berdasarkan Tingkat Keterikatan ?
4. Manfaat Keterikatan Pegawai ?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui Pengertian
Manajemen Keterikatan Pegawai
2.
Mengetahui Dimensi
Keterikatan Pegawai
3.
Mengetahui Tipe
Pegawai Berdasarkan Tingkat Keterikatan
4.
Mengetahui
Manfaat Keterikatan Pegawai
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Manajemen Keterikatan Pegawai
Manajemen merupakan suatu proses atau kerangka
kerja, yang melibatkan bimbingan dan pengarahan terhadap suatu kelompok otang
ke arah tujuan-tujuan organisasi atau maksud-maksud yang nyata (Mustari, 2014:
2-3). Proses tersebut meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian,
memimpin, pembiayaan, pengawasan dan penilaian usaha organisasi dengan berbagai
aspenya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien (Kurniawan,
2017: 4).
Sementara itu pengertian keterikatan pegawai
atau dalam istilah lain employe
engagement dikemukakan oleh penelitian pertama yang menemukan konsep employee
engagement adalah Kahn (1990). Menurut Kahn (dalam Saks 2006) employee
engagement merupakan bentuk multidimensional dari aspek emosi, kognitif,
dan fisik karyawan yang saling terikat.
Menurut Wellins dan Concelman (dalam
Limono 2010) menyebutkan keterikatan pekerja (employee engagement) sebagai
kekuatan ilusi yang memotivasi pekerja ke level performa lebih tinggi. Pendapat
lain dari Harter, Schmidt, and Hayes (dalam Limono (2010) mendefinisikan
keterikatan pekerja sebagai keterlibatan dan kepuasan individu dengan rasa
antusias untuk pekerjaannya.
Katerikatan karyawan (employee
engagement) merupakan keterilbatan pekerja secara emosional, kognitif dan
fisik yang kemudian memotivasi dalam menyelesaikan tugas dengan rasa puas dan
antusias.
Engagement terjadi
ketika seseorang secara sadar waspada dan/atau secara emosi terhubung dengan
orang lain. Disengaged employees, di sisi lain, melepaskan diri dari
tugas kerja dan menarik diri secara sadar dan penuh perasaan (Luthans dan
Peterson, 2002).
Robinson et al. (dalam Saks 2006)
mendefinisikan keterikatan karyawan sebagai sikap positif individu karyawan
terhadap organisasi dan nilai organisasi. Seorang karyawan yang memiliki
tingkat keterikatan tinggi pada organsiasi memiliki pemahaman dan kepedulian
terhadap lingkungan operasional organisasi, mampu bekerja sama untuk
meningkatkan pencapaian unit kerja/organisasi melalui kerja sama antara
individu karyawan dengan manajemen.
Rothbar (dalam Saks 2006) mengemukakan
pula penjelasan tentang keterikatan sebagai suatu konstruk motivasional yang
memiliki dua dimensi yang meliputi attention (ketersediaan kognitif
seseorang untuk memikirkan peran kerjanya dalam suatu periode waktu) dan
penghayatan (intensitas seseorang dalam memfokuskan diri pada peran kerjanya.
Schaufeli (dalam Indrianti 2012),
menyatakan bahwa terdapat beberapa karakteristik karyawan yang memiliki
keterikatan dengan pekerjaannya, seperti memiliki keyakinan terhadap kemampuannya
sendiri serta memiliki anggapan bahwa “work is fun”. Sejalan dengan
Schaufeli et al. (Saks 2006) mendefinisikan keterikatan karyawan sebagi
sesuau hal yang positif, memuaskan, sikap pandang yang berkaitan dengan
pekerjaan yang ditandai oleh kesungguhan (vigor), dedikasi (dedication),dan
penghayatan (absorption). Keterikatan karyawan mengacu pada kondisi
perasaan, dan pemikiran yang sungguh-sungguh dan konsisten yang tidak hanya
berfokus pada objek, peristiwa individu atau perilaku tertentu. Keterikatan
karyawan merupakan sikap positif karyawan disertai dengan motivasi baik secara
kognitif dan penghayatan, yakin akan kemampuan dan merasa senang saat bekerja.
Employee engagement merupakan
antusiasme karyawan dalam bekerja, yang terjadi karena karyawan mengarahkan
energinya untuk bekerja, yang selaras dengan prioritas strategic perusahaan.
Antusiasme ini terbentuk karena karyawan merasa engage (feel engaged)
sehingga berpotensi untuk menampilkan perilaku yang engaged. Perilaku yang engage
memberikan dampak positif bgi organisasi yaitu peningkatan revenue
(Nurofia, 2005).
Schaufeli & Bakker (dalam Indrianti
2012) menyatakan bahwa keterikatan kerja pada dasarnya dipengaruhi oleh dua
hal, yaitu model JD-R (job demand-resources) dan modal psikologis (psychological
capital). Modal JD-R meliputi beberapa aspek seperti lingkungan fisik,
sosial dan organisasi, gaji, peluang untuk berkarir, dukungan supervisor, dan
rekan kerja. Sedangkan modal psikologis meliputi kepercayaan diri rasa optimis,
harapan mengenai masa depan, serta resiliensi.
Manajemen keterikatan pegawai merupakan
sebuah sistem yang megelola keterikatan pegawai dengan menggunakan
konsep-konsep manajemen sehingga tujuan dari organisasi tercapai secara efektif
dan efisien, yang akan menghasilkan seorang karyawan memiliki perasaan positif
dengan pekerjaannya, bersedia terlibat dan mencurahkan energinya demi
tercapainya tujuan-tujuan perusahaan, menghayati pekerjaan yang dilakukan
dengan disertai antusiame.
B. Dimensi
Keterikatan Pegawai
Menurut
Macey, Schneider, Barbera & Young (2009) employee engagement mencakup
2 dimensi penting, yaitu:
1. Employee engagement sebagai energi psikis
Karyawan
merasakan pengalaman puncak (peak experience) dengan berada di dalam
pekerjaan dan arus yang terdapat di dalam pekerjaan tersebut. Employee
engagement merupakan keseriusan ketika larut dalam pekerjaan (immersion),
perjuangan dalam pekerjaan (striving), penyerapan (absorption), fokus
(focus) dan juga keterlibatan (involvement).
2. Employee engagement sebagai energi tingkah
laku
Bagaimana
employee engagement terlihat oleh orang lain. Employee engagement terlihat
oleh orang lain dalam bentuk tingkah laku yang berupa hasil. Tingkah laku yang
terlihat dalam pekerjaan berupa:
a) Karyawan akan berfikir dan bekerja secara proaktif, akan mengantisipasi
kesempatan untuk mengambil tindakan dan akan mengambil tindakan dengan cara
yang sesuai dengan tujuan organisasi.
b) Karyawan yang engaged tidak terikat pada “job description”, mereka
fokus pada tujuan dan mencoba untuk mencapai secara konsisten mengenai
kesuksesan organisasi.
c) Karyawan secara aktif mencari jalan untuk dapat memperluas kemampuan
yang dimiliki dengan jalan yang sesuai dengan visi dan misi perusahaan.
d) Karyawan pantang menyerah walau dihadapkan dengan rintangan atau
situasi yang membingungkan.
Lebih lanjut Hani T. Handoko (2008) juga
mengemukakan komponen-komponen Employee Engagement meliputi:
a)
Balikan 2 arah, yaitu adanya mekanisme komunikasi dua arah
dari karyawan ke anajemen dan manajemen ke karyawan.
b)
Trust pada kepemimpinan yaitu pimpinan menyampaikan visi organisasi
dengan jelas dan segala janji yang dicanangkan dapat dipenuhi.
c)
Pengembangan karir yaitu terbentuk system pengembangan karir
yang jelas dan formal.
d)
Memahami peran dalam peraihan sukses yaitu karyawan memahami
hubungan tugasnya dengan proses bisnis perusahaan. Lebih lanjut lagi karyawan
memahami mengapa dan bagaimana berprestasi untuk keberhasilan perusahaan.
e)
Partisipasi dalam pembuatan keputusan yaitu proses
pengambilan keputusan melibatkan tingkat terendah dari implementasi keputusan.
C. Tipe
Pegawai Berdasarkan Tingkat Keterikatan
Seorang karyawan yang engaged akan
merasa loyal dan peduli dengan masa depan organisasinya. Karyawan tersebut
memiliki kesediaan untuk melakukan usaha ekstra demi tercapainya tujuan
organisasi untuk tumbuh dan berkembang. Gallup (2004) mengelompokkan 3 jenis
karyawan berdasarkan tingkat engagement yaitu:
1.
Engaged
Karyawan
yang engaged adalah seorang pembangun (builder). Mereka selalu
menunjukkan kinerja dengan level yang tinggi. Karyawan ini akan bersedia
menggunakan bakat dan kekuatan mereka dalam bekerja setiap hari serta selalu bekerja
dengan gairah dan selalu mengembangkan inovasi agar perusahaan berkembang.
2.
Not Engaged
Karyawan dalam tipe ini cenderung fokus terhadap tugas
dibandingkan untuk mencapai tujuan dari pekerjaan itu. Mereka selalu menunggu
perintah dan cenderung merasa kontribusi mereka diabaikan.
3.
Actively Disengaged
Karyawan tipe ini adalah penunggu gua “cave
dweller”. Mereka secara konsisten menunjukkan perlawanan pada semua aspek.
Mereka hanya melihat sisi negatif pada berbagai kesempatan dan setiap harinya,
tipe actively disengaged ini melemahkan apa yang dilakukan oleh pekerja
yang engaged.
D. Manfaat
Keterikatan Pegawai
Biro
konsultasi DDI (dalam Handoko 2008) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat
keterikatan maka akan semakin tinggi kinerja organisasi tersebut. Handoko
(2008) menjelaskan bahwa banyak keuntungan yang dihubungkan dengan level
keterikatan yang tinggi, yaitu:
1.
Meningkatkan produktivitas
2.
Meningkatkan keuntungan perusahaan
3.
Kualitas kerja yang tinggi
4.
Meningkatkan efisiensi kerja
5.
Turnover yang rendah
6.
Mengurangi ketidakhadiran
7.
Meminimalkan kecurangan dan kesalahan karyawan
8.
Meningkatnya kepuasan pelanggan
9.
Meningkatnya kepuasan karyawan
10. Mengurangi waktu yang hilang
akibat kecelakaan kerja
11. Meminimalkan keluhan EEO atau
Employee Employment Opportunity
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasanyang dikemukakan pada
bab sebelumnya, selanjutnya dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.Gambaran budaya organisasi di Dinas Perhubungan, Komunikasi dan
Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Sukabumi termasuk kuat. Gambaran budaya
organisasiyangmemiliki persepsi tertinggi pada indikator stabilitas, sedangkan
persepsi terendah pada indikator orientasi orang. Tingkat kepuasan kerja di
Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten
Sukabumi termasuk tinggi. Tingkat kepuasan kerja memiliki persepsi tertinggi
pada indikator rekan kerja, sedangkan persepsi terendah pada indikator
organisasi dan manajemen. Tingkat keterikatan karyawan (employee engagement) di
Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten
Sukabumi termasuk tinggi. Tingkat keterikatan karyawan (employee engagement)
memiliki persepsi tertinggi pada indikator kinerja ekstra (strive), sedangkan
persepsiterendah pada indikator loyalitas (stay). Tingkat kinerja karyawan di
Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Infromatika (Dishubkominfo) Kabupaten
Sukabumi termasuk tinggi. Tingkat kinerja karyawan memiliki persepsi tertinggi
pada indikator kerjasama (cooperativeness), sedangkan persepsi terendah pada
indikator waktu yang dihasilkan (timeliness of output).
DAFTAR PUSTAKA
Handoko, T.
Hani. (2008). Manajmen Personalia dan
Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Liberty
Kurniawan, Asep.
(2017). Manajemen Pendidikan Sekolah. Cirebon:
Eduvision.
Mustari,
Mohamad. (2014). Nilai Karakter Refleksi
untuk Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Komentar
Posting Komentar